Resesi Amerika Semakin Nyata, Ini Pendapat 5 Miliarder Dunia dan Bagaimana Nasib Bitcoin? — Blockchain Media Indonesia

Resesi Amerika dirasakan semakin nyata dan bisa terjadi di masa depan, menurut 5 orang miliarder dunia ini, mulai dari Elon Musk, Bill Gates hingga Gary Friedman. Kapan dan apakah parah? Dan bagaimana dengan nasib Bitcoin?

Sejumlah miliarder memmrediksi resesi Amerika yang akan datang sebelum akhir tahun depan. Ini menyusul pendapat petinggi lembaga keuangan lain, ketika The Fed bergerak cepat untuk mengatasi inflasi tinggi 8,6 persen year-on-year pada Mei 2022 dengan menaikkan suku bunga secara agresif. Sekadar mengingatkan, inflasi sebesar itu adalah kenaikan terbesar selama 12 bulan dalam lebih dari 40 tahun.

Rabu pekan lalu, The Fed menaikkan suku bunga sebesar 0,75 persen, itu yang tertajam sejak tahun 1994. The Fed berharap bisa menekan inflasi menjadi 2 persen, satu misi yang hampir mustahil yang pada akhirnya bisa membawa AS jatuh ke dalam resesi baru.

Ekonom Deloitte: Resesi Amerika Serikat Paling Cepat Terjadi pada Akhir 2022 atau 2023

Biden dan Yellen Soal Resesi Amerika yang Tak Terhindarkan

Dalam sebuah wawancara dengan Associated Press pada Minggu lalu, Presiden Joe Biden bersikeras bahwa resesi di AS tidak tidak terhindarkan walaupun tingkat pengangguran yang mulai rendah.

Senada dengan Biden, Menteri Keuangan Janet Yellen juga berkomentar serupa di hari yang sama, mengatakan resesi tidak sama sekali tak terelakkan dan memperkirakan ekonomi akan melambat.

Soal Potensi Resesi, Ini Kata Para Miliarder

Pendapat resesi oleh miliarder ini disaripatikan dari artikel di Forbes, Selasa (21/6/2022).

Elon Musk: Pada Selasa lalu ia mengatakan sekali lagi, resesi tidak terhindarkan di beberapa titik dan akan lebih mungkin daripada tidak terjadi dalam waktu dekat.

Bill Gates: Dalam sebuah wawancara dengan Fareed Zakaria bulan lalu, dia setuju dengan kondisi bearish ekonomi beruang, bahwa dunia sedang menuju perlambatan ekonomi dalam waktu dekat di tengah pandemi dan invasi Rusia ke Ukraina.

Jamie Dimon: CEO JP Morgan ini memperingatkan badai ekonomi yang dipicu oleh konflik di Ukraina dan inflasi yang tinggi dan mengatakan banknya sedang mempersiapkan situasi yang buruk awal bulan ini.

Carl Icahn: Investor aktivis ini juga memperingatkan resesi atau bahkan lebih buruk, dalam sebuah wawancara dengan CNBC pada Maret 2022. Ia menyalahkan inflasi yang tinggi dan ragu kalau The Fed bisa sukses melawan inflasi tanpa munculnya resesi.

Ken Griffin: Pendiri dan CEO Citadel, mengatakan pada Mei, jika inflasi tetap di sekitar 8,5 persen, maka The Fed perlu injak pedam rem sekeras mungkin dan mendorong mendorong ekonomi ke dalam resesi.

Gary Friedman: CEO perusahaan RH, merujuk film The Big Short dan mengatakan ekonomi AS menghadapi salah satu periode tersulit sejak Resesi Hebat 2008, dalam laporan pendapatan kuartalan perusahaannya Maret lalu.

Selain miliarder, beberapa lembaga keuangan besar dan pemimpin bisnis juga telah memperingatkan tentang resesi yang akan datang baik pada akhir tahun ini atau sekitar tahun depan.

Pada Selasa, Goldman Sachs memperbarui perkiraannya menjadi 30 persen kemungkinan resesi selama 12 bulan ke depan, naik dari 15 persen dibandingkan April.

Dua hari lalu, bank investasi Jepang, Nomura memperingatkan bahwa resesi ringan sekitar akhir 2022 lebih mungkin. Deutsche Bank, bank pertama yang memproyeksikan resesi yang akan datang pada akhir 2023, merevisi perkiraannya pada Jumat, bahwa sekarang resesi lebih awal dan agak lebih parah.

Dalam catatan baru -baru ini, Kepala Ekonom di Moody’s Analytics memperingatkan risiko resesi sangat tinggi dan meningkat.

Deutsche Bank: Resesi AS Dapat Terjadi Tahun Depan

Baik CEO Morgan Stanley James Gorman dan CEO Wells Fargo Charles Scharf meramalkan resesi yang akan datang tidak terlalu dalam atau lama.

Sementara itu, CEO Ark Capital Cathy Wood yang mendukung kripto Bitcoin, dengan tajam mengkritik kenaikan suku bunga The Fed yang tajam. Bahkan ia yakin AS sudah jatuh ke dalam resesi pada kuartal pertama 2022.

Bagaimana dengan Nasib Bitcoin?

Secara pasti, Bitcoin tidak dapat diandalkan sebagai aset berfaedah dalam melawan inflasi tinggi, ditambah ketika The Fed justru menaikkan suku bunga. Faktanya Bitcoin luruh lebih dari 70 persen sejak November 2021 dengan kapitalisasi pasar kripto menguap lebih dari 2 triliun di rentang waktu serupa.

Satu-satunya situasi yang bisa membalikkan itu adalah suku bunga rendah dan terjadinya resesi seperti Maret 2020 lalu. The Fed sendiri akan menaikkan suku bunga bertahap hingga tahun depan hingga inflasi bisa ditekan menjadi 2 persen.

Hal itu digemakan oleh Gareth Soloway Kepala Strategi Pasar di InTheMoneyStock pada Selasa lalu di Kitco.

Dia mencatat, inflasi tinggi di AS dan di negara lain serta kenaikan suku bunga The Fed membuat proyeksi penurunan kripto semakin matang.

“Penting untuk diketahui bahwa sangat mungkin kita turun di bawah US$10.000. Selain itu, lingkungan baru yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk kripto ini, karena The Fed sejatinya mereka menarik dolar AS dari pasar lewat kenaikan suku bunga,” katanya.

Dan hari ini, Keith Neumeyer CEO First Majestic Silver berpendapat The Fed mungkin akan mulai menurunkan suku bunga setidaknya pada kuartal ke-4 tahun 2022 atau pada kuartal ke-1 tahun 2023. [ps]

Leave a Comment

https://linktr.ee/slot_deposit
https://beacons.ai/mposlot_deposit
https://linklist.bio/slot_deposit
https://conecta.bio/slot-deposit
https://biolinky.co/slotdeposit
https://joy.link/slot-deposit
https://slotdeposit.start.page
https://ohmy.bio/slot-deposit